Sunday, August 24, 2014

Accept with(out) changes

Saya : (Bicara terus)
Kamu : (Hanya menyimak)
Dia : (Ikutan nimbrung diantara saya dan kamu) dengan penambahan bumbu, gelak tawa, komentar nyinyir, sanggahan dan juga tanggapan setuju.
 Kondisi yang lumayan lumrah, lumayan sering ditemui, dialami bahkan mungkin diakhiri dengan jarak. Saya yang punya kesenangan berbicara, sering kali lupa kalau ada kamu dan dia yang ingin berbicara juga. Dia, yang akhirnya memberikan komentar, membuat suasana lebih membumi. Walaupun pada akhirnya membangun topik yang mungkin tak selalu cocok untuk dibahas didepan banyak pasang mata. Sedangkan kamu, yang hanya diam, berusaha menikmati dan akhirnya merasa kehilangan kenyamanan.
 

Kamu : Saya terima kalian apa adanya. Bahkan saya merasa, hidup terasa lebih hidup. Tetapi, tidak semua waktu dan tempat kalian harus seperti itu.
Saya : Lah, kamu terima saya kenapa dengan ‘tapi’?
Kamu : Penerimaan tidak berhenti hanya dengan penerimaan. Masih ada lanjutannya.
Saya dan dia : Apa ?
Kamu : Penerimaan yang disertai dengan keinginan untuk berubah.
Saya : Saya ya saya. Perubahan seperti apa ?
Dia : Penerimaan dengan perubahan sikap dan perkataan, ketika ada sebuah teguran, saran dan ketidaknyamanan yang tersampaikan dengan cara apapun.
Saya : Kenapa jadi saya yang dihajar ? kalian juga harus berubah! Bukan saya!
Dia : Yup, akhirnya mengambil sikap untuk masuk dalam sebuah perubahan disaat tidak hanya satu orang saja yang menegur, tetapi dua, tiga, atau lebih. Berati ada yang yang salah dengan kita jika dalam hal yang sama kita diberikan saran yang diulang terus dan terus.
Saya : Bukan hanya saya yang harus berubahkan ?
Kamu : Betul, kita semua harus berubah. Mungkin tidak dalam hal yang sama, tapi kita memang harus terus belajar untuk berubah.
Saya dan Dia : (mengangguk)
Kamu : Semakin banyak jumlah ‘tapi” yang kita ucapkan dalam setiap saran, dan teguran yang kita terima, mengartikan bahwa kita sedang merasa jauh lebih baik dari orang lain. Dan secara tidak langsung mengatakan bahwa oranglainlah yang harus berubah bukan kita.
Saya dan dia : ( mengangguk )
Dia : Kamu tidak hanya diam menyimak, tapi belajar bicara kalau merasa tidak nyaman. Kamu, tidak hanya bicara, mendominasi pembicaraan tetapi belajar mendengar walau hanya sedikit. Dan saya, belajar untuk tidak menjadi ‘kompor’ yang membuat suasana panas dan membangun ketidaknyamanan.

Karena, hidup adalah pembelajaran dan penerimaan hanyalah sikap awal dari permintaan untuk sebuah perubahan.

No comments:

Post a Comment