Thursday, January 5, 2017

Review Film Cek Toko Sebelah

                Salah satu film yang saya tunggu penayangannya di bioskop. Film kedua besutan dari Ernest Prakasa (@ernestprakasa) dimana hasil karya pertamanya Ngenest Movie berhasil mengantongi berbagai penghargaan.

                Waktu tahu judul film ini adalah “Cek Toko Sebelah” dalam pikiran saya, pasti deh soal jual menjual barang. Film dengan genre drama komedi, yang dilengkapi dengan para komika tanah air menjadi suguhan yang kekinian. Tapi untuk saya film ini tidak hanya drama komedi, tapi Romantic movie in the other side. Dikemas secara LENGKAP. Ada lucu, sedih, terharu, terkesima, kasihan, kesel, relax diwaktu yang bersamaan. Penasaran ?!? Inilah review dari ctsmovie (@ctsmovie) :




                Sebuah kehidupan di sebuah toko milik Koh Afuk (Kin Wah Chew) dengan beberapa pegawai. Memiliki 2 orang putra, Yohan si sulung (@dionwiyoko) dan Erwin si bungsu (@ernestprakasa) yang memiliki kehidupan berbeda.

Dion Wiyoko dan Adinia Wirasti (@adiniawrst) yang berperan sebagai Yohan dan Ayu, pasangan suami istri berhasil berkolaborasi dengan PAS. Pasangan air dan api ( menurut saya ) Yohan yang meletup-letup selalu berhasil ditenangkan oleh Ayu sang istri. Entah gimana caranya, Adinia Wirasti berhasil memberikan kehidupan secara real pada peran Ayu, dengan setiap perkataan dalam dialognya seolah mewakili peran setiap istri bagi suaminya. Dion Wiyoko yang berhasil menampilkan, how deep his love to her in every condition dengan selalu menjadi tenang ketika Ayu berada didekatnya, yang terkadang bersikap like a looser, kalau lagi marah dan emosi.

                Salah satu scene favorite dari mereka adalah ketika Ayu ditawari oleh mantan pacarnya rumah warisan orang tuanya di Jogja untuk dijadikan toko kue impiannya. Ayu menceritakan kepada Yohan tentang hal itu. Dimana tawaran itu tidak mendapat ijin dari Yohan.

“Mewujudkan impian kamu adalah tugas aku” Kata Yohan. Meleleh……… PIlihan Ayu yang nurut sama suaminya dan memilih ‘menunda’ untuk sementara waktu mewujudkan impiannya.

Permintaan Koh Afuk soal tokonya untuk dikelola Erwin si anak bungsu, seolah menajdi awal konflik dan sekaligus awal pemulihan keluarga tersebut. Cerita yang related bagi banyak orang. Dimulai secara detail dan ditutup secara tuntas.

                Ernest Prakasa sebagai penulis cerita juga berhasil mengangkat konflik keluarga tersebut, membawa mundur ke masa lalu memasukkannya kedalam masa sekarang. Menjelaskan mengapa Yohan memilih hidup yang seperti saat ini, alasan kenapa Erwin dan bukan Yohan sebagai anak sulung keluarga tersebut yang dipilih Ayahnya untuk melanjutkan usaha keluarga tersebut, kegalauan Erwin memilih antara keluarga atau karier, ketidaksetujuan Afuk atas pernikahan Yohan dan Ayu yang beda etnis, mengembalikan masa-masa hubungan brotherhood, membuktikan arti cinta yang Natalie (gisel_la) miliki untuk Erwin, tidak hanya sebatas karier kantoran yang dimiliki.

                Melibatkan para komika, memberikan komedi yang segar dan tidak basi. Tidak membiarkan penonton untuk larut dalam kesedihan.

Di tengah-tengah, konflik tidak hanya terjadi antara Koh Afuk dengan Erwin, tapi juga Natalie dan Erwin. Yang lagi-lagi ditutup dengan pas oleh percakapan Ayu dan Natalie.

Ayu : “ Kamu yang sudah memilih Erwin. Sekarang biarkan Erwin yang memilih” . Hidup dengan orang yang penuh dengan penyesalan itu tidak mudah “. Dialog yang ringan tapi dalem, lagi lagi berhasil disampaikan dengan kekaleman Ayu.

                Konflik yang ditutup secara TUNTAS diakhir, engga menggantung ( suka endingnya ) dengan cara dan alasan yang cukup masuk akal, tidak mengada-ngada. Dengan cara yang serius tapi kocak berhasil disuguhkan.

“ Family come first, dude”  

Sepertinya film ini ingin menyampaikan hal tersebut. Dimana dalam keluarga ada konflik, cinta, hubungan baik dan buruk. Kemanapun kamu lari dari keluarga, kepada keluargalah kamu akan kembali berlari.




No comments:

Post a Comment