Wednesday, July 12, 2017

Review Film Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody


Setiap hal yang punya rasa pasti punya nyawa – Ben
               
                Sejak kemunculannya di tahun 2015 lalu, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) sudah mencuri perhatian penikmat film. Cerita yang diangkat dari cerita pendek karya Dee Lestari ini, secara khusus menarik penikmat kopi menikmati kopi dengan filosofinya dalam bentuk film dan secara umum memberikan warna lain kepada masyarakat dalam sajian sebuah karya seni. Berbeda dari sequelnya yang pertama, Filosofi Kopi 2 adalah hasil pengembangan cerita yang berasal dari penonton melalui lomba #NgeracikCerita.

                Chemistry yang dimiliki dua sahabat sejati ini terasa semakin kuat dalam setiap adegannya. Dialog yang disajikan masih kental dengan gaya khas Angga Dwimas Sasongko selaku sutradara sekaligus scriptwriter bersama Jenny Jusuf. Gaya bicara dan bahasa yang digunakan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dialog yang digunakan ringan, mudah dimengerti, terasa dekat, natural dan dibuat se-real mungkin. Penonton tidak butuh waktu untuk mengerti setiap detailnya.



Kedai Filosofi Kopi yang ditutup oleh Ben & Jody di filmnya sebelumnya, mengubah konsepnya dengan membuka kedai kopi keliling menggunakan VW Combi dari satu kota ke kota lainnya. Konflik mulai muncul ketika Nana, salah satu karyawan mereka, mengajukan pengunduran diri karena sedang hamil. Kemudian diikuti oleh karyawan lainnya dengan alasan ingin mewujudkan mimpi mereka masing-masing.

“Mas Ben & Mas Jody punya Filosofi Kopi, saya juga ingin mewujudkan mimpi saya mempunyai kedai kopi sendiri.”

Kepergian mereka sebagai tim filosofi kopi akhirnya menyadarkan Ben & Jody, bahwa mimpi mereka bukanlah membuat kedai kopi keliling seperti sekarang ini. Dua sahabat ini memutuskan kembali ke Jakarta dan membuka kedai kopi yang pernah membuat nama mereka dikenal dikalangan para pecinta kopi nusantara. 

                Kalau di film terdahulu El (Julie Estelle) berperan sebagai jembatan antara Ben & Jody menemukan kopi terbaik yaitu kopi tiwus, kali ini Tarra (Luna Maya) menjadi jembatan untuk membuka usaha mereka yang sempat tutup. Tarra berperan sebagai investor sehingga kedai ini bisa dibuka kembali. Perjalanan baru siap mewarnai kedai Filosofi Kopi dengan kehadiran Tarra. Peran Luna Maya di film ini cukup mengobati rasa kangen penonton setelah cukup lama absen dalam film bergendre drama, Tarra, seorang wanita mandiri yang lahir dari keluarga yang piawai dalam berbisnis, membuktikan sebuah perjuangan karirnya tanpa harus mendompleng nama keluarganya. Perannya ini cukup luwes, tidak bertele-tele, berani membayar mahal untuk keberhasilan bisnisnya (nggak pelit kayak Jody si Mr. Cuan & Paman Gober) dan staright to the point. Kehadiran Tarra sudah mencuri perhatian Ben sejak awal, yang membuat Jody sepertinya akan mengalah lagi terutama soal gondrong (sebutan Ben&Jody untuk wanita). 

“Jod, nggak semua hal lo harus mengalah dari Ben. Kayak dulu lo mengalah soal El.” 

Warna lain diberikan oleh Brie (Nadine Alexandra) seorang barista lulusan Melbourne, yang belakangan diketahui kalau motivasi yang menjadikannya seperti sekarang ini adalah Ben (Barista Role model). Kemunculan Brie sebagai barista baru di Filosofi Kopi, yang direkrut Jody tanpa persetujuan dari Ben, menimbulkan konflik baru dan terutama bagi Ben yang dikenal idealis dalam meracik kopi. 

“Kopi itu tidak selalu berbicara soal hitung-hitungan, tapi rasa yang diberikan saat meraciknya.”

Brie yang membuat kopi selalu dengan timbangan membuat image Filosofi Kopi yang selalu bicara soal ‘rasa’ mulai hilang, terutama dengan adanya berita dari reviewer yang beredar di internet. Ide untuk memperbaiki nilai kedai mereka dimata masyarakat segera muncul dengan mempercepat pembukaan Filosofi Kopi di Jogja. Hari pembukaan kedai Filosofi Kopi di Jogja menjadi kebahagiaan sekaligus kesedihan bagi Ben, karena kabar meninggalnya Bapak Ben dihari yang sama. Kehadiran Brie sebagai salah satu tokoh wanita difilm ini terasa kurang kuat dibandingkan tiga tokoh lainnya.

Sepanjang adegan ini emosi Ben yang naik turun berhasil membawa penonton merasakan hal yang sama dengannya, terutama saat Ben & Jody yang secara bersama-sama membawa tandu dari jenazah bapaknya. Kedekatan mereka sebagai bromance memang tidak usah diragukan lagi. Tanpa ucapan hanya dengan tatapan mata mereka sudah saling mengerti.

Dalam satu jam pertama film ini, penonton dihibur dengan dialog ringan yang menarik tawa. Memanjakan mata dengan keindahahan alam Indonesia diantaranya Tana Toraja. Kebudayaan dan tempat yang notabene sudah umum bagi masyarakat, namun secara visual kembali dibuat takjub dengan keindahan alam Indonesia dengan pengambilan gambar yang cantik. Penjabaran cerita cukup detail di awal, runut dalam bertutur, plot yang agak lambat namun tertolong dengan konflik baru yang muncul sebelum konflik terdahulu selesai sehingga rasa bosan tidak terlalu lama melanda.

Konflik baru muncul dikarenakan Tarra memiliki rahasia yang berhubungan dengan kejadian yang menimpa Ben dan keluarganya dimasa lalu. Hal ini berpengaruh kepada hubungan Ben dengan Tarra dan kelangsungan kedai mereka. 

Adegan yang dilakukan di Makassar tidak memberikan pengaruh berarti kepada jalan cerita selanjutnya. Tujuannya dirasa hanya untuk memperlihatkan keindahan alam yang dimiliki oleh daerah tersebut. 

Dalam 1 jam terakhir runut dalam bercerita mulai berkurang, penyelesaian konflik terkesan buru-buru, beberapa dialog terdengar hanya sebagai tempelan. Salah satunya dalam scene dimana Brie merasa kesal karena Ben menyebutnya tidak punya hati lalu pergi keluar kedai, dan adegan Ben menghampiri Brie, kemudian secara tiba-tiba Ben memberitahukan konflik yang terjadi antara dirinya dengan Tarra (Sepertinya perlu ditambahkan adegan lain, karena ada terasa ada bagian yang hilang). Cara Ben ‘baikan’ dengan Brie tidak dijabarkan dengan jelas. Kalau ajakan Ben kepada Brie untuk mengunjungi Lampung adalah cara konflik mereka selesai, dirasa kurang mewakili. 

Kejutan yang Ben dapatkan dari pamannya, menjadi adegan puncak dan sangat sentimental. Kebun kopi yang ditanam Bapak Ben semasa hidupnya, mengeluarkan emosi yang melonjak dari Chicco Jerikho. Rasa kasih sayang kepada keluarga mengalir ke tengah-tengah bioskop di saat Ben dan Bapaknya bertemu dalam angan. Adegan ini cukup menguras air mata. Adegan favorit saya sepanjang film diputar. Surprisingly dengan mudah penonton dapat menebak adegan selanjutnya bahkan ending dari film ini.  

My Favourite Scene (Source google)
 
Kelemahan cerita jadi terasa karena banyak adegan yang dipotong terutama bagaimana cara Ben, Jody dan Tarra menyelesaikan masalah mereka. Identifikasi masalah yang cukup terperinci di awal cerita menjadi tidak tuntas penyelesaiannya diakhir film. 

Kata-kata penutup yang diucapkan Ben kepada Tarra sesat sebelum adegan akhir menjadi boom yang dalam dan menyentuh : Setiap hal yang punya rasa pasti punya nyawa.

                Sequel Filosofi Kopi yang mengambil judul ‘Ben & Jody’, memang mengupas sedikit lebih dalam tentang kehidupan masing-masing tokoh, tanpa menghilangkan unsur filosofi kopi didalamnya. . Berbeda dengan cerita sebelumnya, di sequel ini tidak dibahas persoalan tentang kopi secara detail dan mendalam.

                Ben & Jody sudah memiliki tempat tersendiri bagi para penikmat film. Konsistensi mereka  menampilkan kenaturalan disaat berakting, jalan cerita hasil pengembangan dari penonton yang lebih menonjolkan sisi drama, memperkenalkan keindahan alam Indonesia, menjadikan film Filosofi Kopi sebagai  tontonan yang cukup komplit dan menghibur.

Rate : 6.5/10

2 comments:

  1. Iya akhirannya kurang dehhhh.. Kzll.. Masih bermain emosi, ehh udahan..

    ReplyDelete
  2. hahaha ember...Tiba2 udahan gitu. Kek dipaksa beres huhuhu

    ReplyDelete