Tuesday, September 26, 2017

Menjadi Besar atau Kecilkah Duniamu dengan Benda ini?



Q : Kamu punya smartphone?
A : Punya
Q : Aplikasi apa yang paling sering kamu buka di smartphone?
A : Whatsapp, Instagram, Line, kadang online news. Banyaknya sosial media.
Q : Berapa jam/hari kamu bermain dengan hp?
A : More than 10 hours, tapi nggak nonstop.
Q : Nggak bosen?
A : Nggak sih
Q : Pusing nggak lama-lama lihat layar sekecil itu?
A : Kadang-kadang, but I have fun with this.
Q : Pilih mana, ketinggalan dompet atau handphone?
A : Kayaknya mending dompet aja deh. Nanti bisa pesen ojek online nganterin atau pinjem temen kalau kepepet.

Source google

                Apakah kamu mengalaminya? Saya rasa sebagian orang terutama yang hidup di kota besar pasti mengalaminya. Menikmati kecanggihan teknologi lewat sebuah benda kecil yang kita kenal dengan smartphone. Dengan kecanggihan yang ditawarkan terbukti memberikan kemudahan dari berbagai aspek. Sebut saja informasi yang up to date sampai belanja online semua bisa dilakukan dengan benda tersebut. Tanpa harus menembus jalanan macet, susahnya mencari parkir kendaraan dan berjalan kaki menyusuri toko demi toko. Mudah, praktis dan cepat. 





Tapi apa jadinya, kalau benda kecil tersebut memperkecil duniamu? Kok bisa?

                Libur panjang kemarin, saya pulang ke Bandung untuk menemui keluarga. Selama kurang lebih dua bulan nggak bertemu rasanya banyak sekali hal yang ingin diceritakan maupun didengar dari mereka. Walaupun sebenarnya, hampir tiap hari saya berbicara dengan mereka lewat telepon. Selama empat hari disana kerinduan saya terobati dengan berbagai cerita. Hingga di satu moment, mama saya bilang begini:
“Kak, repot yah kalau semua pegang handphone!”


Sibuk dengan dunia masing-masing (source google)

Seketika saya menghentikan semua aktivitas dengan gadget sambil nyengir. Lalu, mama menjelaskan pernyataannya dengan lebih gamblang. Sekumpulan orang berada dalam ruangan yang sama, terus masing-masing sibuk dengan dunianya di dunia maya. Semuanya menunduk 45* kebawah, nggak ada yang melihat sejajar, eye to eye. Mungkin sesekali menjawab kalau ditanya, kemudian perhatian kembali ke posisi awal, gadget. Lagi nggak bareng-bareng janjian untuk ketemu, pas udah ketemu dibiarin laleran karena sibuk dengan gadget. Atau kalau sedang ngobrol, lalu ada bunyi dari hp-nya, dengan segera memeriksanya dan orang yang sedang bersamanya DI CUEKIN.

Bersama tapi nggak bersama (source google)

Wajar? Ya nggak-lah! Tapi jaman sekarang DI WAJAR-WAJARIN tuh!
   
Memangnya salah? Sesungguhnya sih nggak. Tinggal balik lagi ke penggunanya. Memanfaatkan teknologi bukan berarti menghabiskan dan memberikan seluruh waktumu pada benda itu. Perlu aturan, penguasaan diri, dan pemilihan. Mulai dari pemilihan konten yang akan dinikmati, waktu bagian mana yang akan digunakan untuk menikmati sampai hal-hal yang nggak mengecilkan duniamu dengan orang-orang sekitar. Toh, sekarang ini banyak juga pekerjaan menghasilkan yang dilakukan lewat berbagai aplikasi berbasis mobile. 


Everything you can do with this (source google)

                Saya masih ingat motto sebuah merk handphone “Connecting People.” Dan saya setuju. Gadget dengan bentuk apapun hanyalah alat bantu, mendekatkan yang jauh bukan sebaliknya. Belajar mengatur penggunaan smartphone nggak ada salahnya loh dan saya sedang mencoba.

How about you?

               

2 comments:

  1. Kalo kita ngobrol jarang ngecek hp ya kak.. Ah gw mah orangnya memang lebih menarik sih daripada gadget *kibas rambut

    ReplyDelete
  2. jarang banget. Jarang ngecek jam pulak sampai nggak inget pulang hahahaha

    ReplyDelete