Tuesday, June 19, 2018

Menanti Matahari Terbit, Seseru Menanti Kamu. Masa?


Kalian masuk dalam tim sunrise atau sunset? Kalau gue? Hmm, apa yah? Kalau harus memilih mungkin gue akan lebih milih matahari terbenam. Kenapa? Menurut gue effortless than hunting sunrise. Gue nggak perlu bangun pagi-pagi buta, lihat sunset bisa sekalian pas lagi jalan kemana gitu, pencahayaan lebih bagus untuk dapetin foto-foto ciamik, dan satu lagi bisa sambil duduk-duduk makan keripik mungkin haha.


Seindah ini yang gue tunggu-tunggu


Bagaimana dengan sunrise?
Liburan gue kali ini dengan sangat spontan setuju untuk  melihat matahari terbit. Awalnya, bapak supir yang membantu kami selama liburan tiba-tiba bilang:

‘Mbak, kalau Bukit Panguk enaknya dinikmati waktu sunrise. Kalau siang ya gitu panas doang’

Gue langsung liat-liatan sama temen gue, kemudian setuju, dan akhirnya mengubah waktu kunjungan kami ke Bukit Panguk menjadi dini hari.

Sesuai dengan kesepakatan bersama, gue dijemput di hotel pukul 04.00 WIB karena perlu sekitar 1 jam perjalanan ke tujuan tersebut. Gue kan nggak bisa mandi subuh-subuh nih, well gue mandi sebelum tidur supaya besok tinggal ganti baju dan berangkat. Gue tetap harum loh dengan bantuan parfum haha. Dengan nyawa yang masih melayang-layang, gue melanjutkan tidur diperjalanan. Lagian nggak bisa menikmati pemandangan juga, masih gelap gaes. #alasanbangetnih, anaknya memang suka tidur aja haha.

Setelah setengah perjalanan, gue terbangun dan melihat jalanan yang kita lalui ternyata cukup kecil. Kalau ada mobil dari arah yang berlawanan, salah satunya harus mau mengalah dan memberikan jalan. Pukul 05.00 kami tiba di Bukit Panguk yang masih gelap remang-remang. Hanya dengan biaya 5 ribu saja kami sudah bisa masuk ke kawasan tersebut. Setibanya, gue nyeletuk ‘kepagian nih!’ Tanpa ada tanggapan apapun, mobil masuk menyusuri kawasan tersebut, ternyata kami nggak kepagian. Nyatanya sudah banyak kendaraan lain yang tersusun dengan rombongan penanti matahari terbit.

Ini dia rombongan mobil yang terjepret

‘Eh ternyata udah rame’ Celetukan kedua menghilangkan rasa malu, dan masih tanpa tanggapan. Yasudahlah, malu juga kalau pada nanggepin. Lo pernah gitu juga nggak sih? 

Setelah berkejaran dengan waktu kini giliran gue menanti matahari nongol dengan perkiraan 1 jam lagi. Gue baru keluar mobil sekitar pukul 05.30 kemudian mencari posisi yang sekiranya paling nyaman. Lagi-lagi gue kalah start posisi terenak sudah ditempati orang lain. Bahkan gue agak bingung harus berdiri disebelah mana. Dengan tinggi badan yang agak minim ini, rasanya akan sulit melihat matahari nongol, ketutup kepala orang.

Waktu mau motret eh orang ini lewat aje terus diem terus ke foto deh

Sambil menyusuri, melihat jam tangan dan memastikan perubahan warna langit, gue naik ke posisi yang agak tinggi dan agak kosong juga. Dengan sangat yakin gue bilang ‘the best spot! Bagian bawah aja terlihat apalagi bagian atas’ Tersenyum lebar tiada henti.
Camera standby
Gue standby
Matahari? Belum juga nongol.

Langitnya sebagus ini walau mataharinya belum nongol

Terus berubah warna lagi jadi kayak gini

Dan kayak gini, indah!

Karena nggak mau merasa sia-sia sudah bangun subuh, gue jeprat-jepret sana-sini. ‘Lagian langitnya Indah kok’ berkata-kata dalam usaha menghibur diri. Waktu terus berjalan dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 6.20 WIB, harapan melihat matahari terbit mulai sirna. Ditambah lagi temen gue bilang ‘apa udahan aja? Makan aja gitu? Laper!’

Maunya sih udahan aja, tapi kok sayang banget ya. Akhirnya gue bilang ‘1/2 7 matahari belum terbit juga, kita makan!’ Dengan tambahan kesabaran 10 menit, harapan gue nggak jadi harapan lagi karena matahari mulai nongol memberi sinarnya. Rasanya? Bahagia sampai gue senyum-senyum sendiri. Ya walaupun nggak sesempurna dalam bayangan gue, tapi semua yang gue lakuin terbayar sudah. Matahari dengan sinarnya yang menghangatkan, terangnya yang menyilaukan bikin gue bersyukur bahwa ‘Usaha nggak akan membohongi hasil. Selagi gue percaya dan masih ada Tuhan.’

Wajah tertunduk, menanti penuh harapan

Ketika yang dinanti mulai terlihat di ujung mata

Melihat matahari terbit, mengartikan selalu ada pengharapan baru

Loh kok jadi serius? Hahaha ya gitu deh, anaknya langsung baperan :p. Ya, persis kayak kamu! Seseru itu menanti kamu, eh tapi kok yah nggak nongol-nongol. Namun, dengan sedikit kesabaran aja, kamu datang nyamperin. Bahagia sampai guling-guling.

Salah satu spot foto yang sengaja dibuat pengelola. Bayar 5ribu kalau mau foto di situ

Pengejaran dan penantian matahari terbitpun selesai dan diakhiri semangkuk indomie seharga 4rb aja. Ah life is good.
Kalau kamu gimana? Males menanti atau mengejar dia eh sunsrise, nggak?

Jangan lupa bahagia, kawans!
Cheers

2 comments:

  1. Kalau saya sih #teamsunrise. Meski harus bangun subuh-subuh tapi pemandangan yang di dapatkan worth it banget, mbak.

    ReplyDelete
  2. Iyahhh pricelesa bgt yah viewnya. Indah wlpn harus rela ninggalin selimut hehhe. Makasih udah mampir kak :)

    ReplyDelete